|
Tumben-tumbenan duo geng Semarangan mudik ke kampung halaman. Usut punya usut, mbak Dina Sulistyaningtyas dan Erda Cigaretta sedang hendak reunian di SMU 5 almamaternya dahulu. Namanya juga cewek, tidak dimana-mana isinya menggosip melulu.
“Eh, tahu pak Gondes gak Da?”, tanya mbak Dina
“Tahu mbak, yang jual tahu petis di Pasar Kagok itu kan?”, jawab Erda.
“Iyo, pekok tenan dia. Mosok dulu nyebut 7UP itu tujuh up. Padahal kan seven ap”
“Ah mending mbak, si Gajul malah parah lagi, nyebutnya IUP”
“Ah jan, emang katrok-katrok orang itu mbak”
“He-eh” angguk mbak Dina setuju.
Sesampainya di stasiun Tawang merekapun turun dari kereta Argo dengan wajah kucel dan awut-awutan.
“Da, minum dulu yuk, aku haus neh”
“Iya mbak. Mau minum apa?”
“Apa aja, asal jangan 7UP. Ntar salah paham lagi”
“Tenang mbak, 7UP sudah tidak ada lagi. Pasti aman lah kalau mau beli-beli minuman”
“Yoii… Yowes Da, kita ke kios pojok stasiun sono”
“Sip mbak”
Dengan jalan pelahan karena capek bercampur ngantuk. Sampailan mereka berdua di depan kios sambil merebahkan pantatnya di bangku kios tersebut.
“Mau ngunjuk apa mbak?” tanya mas penjual dengan ramah.
“Anu mas, MIZONE aja mas”, kata mbak Dina
“Oh nggak ada mbak” jawab mas nya.
“Lhah ada kui mas. Itu looooh. MIJOOON!”, sahut Erda kesal.
“Ah mana?”
“Ituuuuu!”, tunjuk mbak Dina kumat sewotnya.
“Mana?”, kata mas nya tambah bikin keki.
Hilang kesabaran Erda, diambilnya sendiri minuman yang katanya mampu mengembalikan konsentrasi itu.
Mizone, Mijon atau Mis-wan?

“Ini loh maaaasss…MIZONE atau dibaca MIJON!”, kata Erda menjelaskan dengan menahan kesal.
“Oalah mbak-mbaak…. Jauh jauh merantau ke Jakarta kok nggak bisa baca tulisan bahasa inggris”
“Loh, emang ini bukan Mizone bacanya?”, kata mbak Dina sambil berpandangan dengan Erda.
“Bukan mbak, ini namanya MIS-WAN! Tuh ada ONE-ONE (wan-wan) nya…” jelas mas nya penuh keyakinan.
Sudah, nggak usah dijelaskan lagi kalau mbak Dina dan Erda langsung sakit perut mendadak. Bukan karena PMS, tapi ngakak ditahan-tahan. Untung nggak sampai kepentut-pentut.
|